Sabtu, 19 November 2011

Pelajaran Dari Kisah Nabi Yusuf


Sesungguhnya di dalam kisah Yusuf terdapat banyak tanda kebesaran Allah yang tidak terhitung, banyak faedah dan pelajaran bagi orang yang beriman. Juga terdapat hukum-hukum yang disimpulkan oleh para ulama. Di antara faedah tersebut adalah,
1. Rumah (keluarga) yang baik akan mencetak generasi yang baik, perhatikan firman Allah, artinya, “Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Rabbmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 6)
2. Mimpi yang baik berasal dari Allah, karena Yusuf melihat mimpi yang benar.
3. Sesungguhnya tidak mengungkapkan nikmat kepada orang lain untuk kemaslahatan adalah diperbolehkan, oleh sebab itu Nabi Ya’qub berkata, artinya, “Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu”(QS. Yusuf: 5) Padahal mimpi Yusuf di sini adalah nikmat. Hal itu supaya saudara-saudaranya tidak iri hati kepadanya. Jadi, menyembunyikan nikmat Allah agar tidak tertimpa bahaya hasad itu boleh. Dan mengungkapkan kenikmatan Allah kepada orang lain, ketika hal itu aman dari hasad mereka.
4. Sesungguhnya setan masuk ke dalam urusan antar saudara, mengobarkan permusuhan dan kebencian di dada sebagian mereka sekalipun mereka adalah saudara kandung.
5. Wajib bagi seorang bapak untuk berbuat adil kepada anak-anaknya semampu mungkin. Dan jika ada salah seorang anak yang berhak untuk diberi tambahan perhatian, hendaknya tidak menampakkan hal itu, supaya tidak menimbulkan dendam dan kebencian di antara saudara-saudara yang lain.
6. Sesungguhnya kecemburuan (iri) mendorong pelakunya untuk menyakiti dan mencelakai orang yang dicemburui, seperti kisah kecemburuan saudara Yusuf kepadaYusuf.
7. Kecemburuan ini juga mengakibatkan seseorang membuat tipu daya (rencana jahat) dan bahkan pembunuhan, seperti saudara Yusuf yang berusaha untuk membunuh Yusuf, mereka mengatakan, artinya, “Bunuhlah Yusuf” (QS. Yusuf: 9)
8. Meniatkan taubat sebelum berbuat dosa adalah tidak benar, seperti seseorang berkata, “Kita melakukan dosa dulu lalu kita taubat, karena itu cuma sekadar dosa kemudian kita istiqamah…maka berbuat dosalah.” Ini adalah taubat yang tidak benar, kenapa? Allah berfirman menceritakan perkataan saudara-saudara Yusuf, artinya, “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang shalih.” (QS. Yusuf: 9). Jadi mereka berkata, “(Mari) Kita buat dosa, lalu kita taubat.” Ini adalah taubat yang tidak benar. Siapa yang tahu kalau mereka akan menjadi orang yang istiqamah di atas agama dan keshalihan?!! Setan berkata kepada sebagian orang, “Sekarang kamu berbuat dosalah, lalu nanti kamu bertaubat.” Maka rugilah orang ini dan setan meninggalkannya dalam kemaksiatan.
9. Sesungguhnya seorang pemuda jika tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu dan hikmah. Allah berfirman, artinya, “Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Yusuf: 22)
10. Bahaya berkhalwat (menyepi berduaan) dengan wanita (yang bukan mahram). Firman-Nya, artinya, “Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu.”(QS. Yusuf: 23) khalwat yang haram ini menjerumuskan kepada musibah yang besar.
11. Sesungguhnya manusia jika tidak ditolong oleh Allah ia tidak akan tegar dan tidak akan kokoh di atas kebenaran. Sebagaimana dalam firman-Nya, artinya, “Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian.” (QS. Yusuf: 24)
12. Sesungguhnya Malaikat memiliki keistimewaan dengan bagusnya fisik mereka, dan keyakinan seperti ini sudah ‘mengakar’ dalam diri manusia. Oleh sebab itu para wanita yang diundang oleh istri raja ketika melihat ketampanan Yusuf mereka berkata, artinya, “Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya (Yusuf), mereka kagum kepada (ketampanan wajah)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata:’Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.’”(QS. Yusuf: 31)
Dibenak manusia sudah tertanam bahwa Malaikat memiliki rupa yang indah dan setan memiliki rupa yang buruk sekali.
13. Sesungguhnya seorang muslim, jika diberikan pilihan antara berbuat maksiat atau bersabar dalam kesusahan, maka ia memilih bersabar di atas kesusahan dan lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah sekalipun dituduh dengan tuduhan buruk. Firman-Nya, artinya, “Yusuf berkata:’Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.’” (QS. Yusuf: 33)
14. Manusia, tanpa taufik dari Allah adalah makhluk yang lemah. Oleh sebab itu Yusuf meminta pertolongan kepada Allah, “Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka).” (QS. Yusuf: 33)
15. Pengabulan doa dari Allah terhadap doa para wali-Nya dan orang-orang yang berdoa dengan ikhlash. Allah berfirman, artinya, “Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 34) Yaitu mendengar doa hamba-Nya dan mengetahui keadaan hamba yang berdoa kepada-Nya.
16. Sesunguhnya tangisan (ketika musibah) tidak menafikan (bertentangan) dengan kesabaran, Ya’qub berkata, artinya, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.” (QS. Yusuf: 84). Karena tangisan dan air matanya, hitam matanya berubah menjadi putih. Tangisan yang tidak bertentangan dengan kesabaran adalah tangisan yang tidak mengandung ratapan dan ketidakrelaan terhadap takdir. Adapun kalau disertai ratapan maka hal itu adalah dosa besar.
17. Haramnya berputus asa dari rahmat Allah, dan hal itu menafikan (bertentangan) dengan tauhid, sebagaimana ucapan Nabi Ya’qub, artinya, “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
18. Sesungguhnya seorang muslim memperhatikan perasaan saudara-saudaranya, dalam hal ini Yusuf berkata, artinya, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian.” (QS. Yusuf: 92)
19. Sesungguhnya seorang muslim apabila melihat kerabatnya (saudaranya) berada dalam kehinaan, maka ia tidak menambah kehinaan dan kesedihannya tersebut. Akan tetapi ia bersimpati dan berusaha menghentikan kesedihannya. Yusuf tidak ingin membalas dendam, seandainya beliau ingin balas dendam tentu beliau akan membiarkan saudaranya meminta tambahan dan mengemis-ngemis kepada Yusuf lalu ia menolaknya untuk kedua kali, ketiga kali dan menyiksa mereka. Akan tetapi ketika Yusuf melihat kesusahan yang menimpa mereka, ia bersimpati dan menghentikan sandiwaranya dan menjelaskan hakikat yang sebenarnya. Ia berkata, artinya, “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu.” (QS. Yusuf: 89) Yusuf menjelaskan hakikat yang sebenarnya.
Maka seorang manusia seharusnya tidak bergembira di atas kesusahan orang lain, namun sangat disayangkan sebagian manusia memiliki sifat ini. Dan Yusuf tidak mungkin melakukan hal ini.
Sebenarnya masih banyak sekali faidah dan pelajaran yang bisa digali dari kisah Yusuf ini. Marilah kita pahami dan tadabburi al-Qur’an supaya kita mendapatkan faedah-faedah yang lain, baik dari surat Yusuf maupun dari surat-surat yang lain. Wallahu A’lam. (Sujono)

[Sumber:
Disarikan dari “Miatu Faidah min Suroti Yusuf,” karya Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizhahullah]alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar