Sabtu, 19 November 2011

Abu Bakar Ash-Shiddiq


Siapa yang tak kenal dengan sahabat yang mulia ini, yang mempunyai kedudukan tinggi di hadapan Rasulullah, sahabat yang dijadikan pemimpin (khalifah) sepeninggal Rasulullah yang menemani beliau berhijrah menuju kota Madinah. Seorang sahabat yang telah diberi kabar gembira termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga Allah, beliau adalah Abdullah bin Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim, atau lebih kita kenal dengan nama Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Kehidupan beliau pada masa sebelum Islam
Beliau dilahirkan pada tahun 51 sebelum peristiwa hijrah ke Madinah, beliau lebih muda dua tahun enam bulan dari Rasulullah,
Pada masa jahiliyyah Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan salah seorang tokoh pembesar bangsa Quraisy. Dia mempunyai garis keturunan yang mulia. Seorang saudagar kaya yang berperangai baik dan terpuji. Beliau sering dijadikan rujukan oleh para tokoh Quraisy untuk meminta pengarahan, karena kejeniusan, kesuksesannya dalam berbisnis, dan sikapnya yang luwes terhadap orang lain.

Abu Bakar telah mengharamkan khamr atas dirinya, beliau tidak pernah meminum minuman haram tersebut setetes pun selama hidupnya! Baik pada masa jahiliyah, maupun setelah beliau memeluk agama Islam. Itu dikarenakan pada suatu saat di masa jahiliyyah, beliau melewati seseorang dari kaumnya yang mabuk setelah minum khamr, kemudian orang tersebut meletakkan tangannya di atas kotoran dan mendekatkan kotoran tersebut ke mulutnya, ketika tercium bau busuk, ia menjauhkannya, seketika itu Abu Bakar mengharamkan khamr atas dirinya sendiri.

Abu Bakar juga sama sekali tidak pernah sujud di hadapan berhala. Abu Bakar pernah bercerita kepada para sahabat Rasulullah, “Aku tidak pernah sujud di hadapan berhala sekalipun! Dan itu terjadi ketika aku sedang mendekati al-Hakam, tiba-tiba Abu Quhafah menarik tanganku dan mengajakku ke suatu tempat yang di sana terdapat berhala-berhala. Ia berkata kepadaku, “Ini adalah sesembahan-sesembahanmu yang maha tinggi, lalu dia pergi dan meninggalkanku sendiri, aku pun mendekati berhala itu dan berkata, “Sungguh aku lapar, maka berilah aku makan! Berhala itu diam tidak bergeming sedikit pun. Aku berkata kembali, “Sungguh aku dalam keadaan telanjang, berilah aku pakaian!” Berhala itu pun tetap diam dan tidak menjawab permintaanku, maka aku lemparkan batu besar ke arahnya, hingga berhala itu jatuh tersungkur di atas tanah.”

Kehidupan beliau pada masa Islam
Abu Bakar adalah sahabat terdekat Nabi Muhammad. Ketika wahyu kenabian turun kepada Rasulullah, tanpa ada keraguan sedikit pun, beliau langsung beriman. Dikisahkan bahwa sebab masuknya Abu Bakar ash-Shiddiq ke dalam agama Islam lantaran mengetahui akhlak, budi pekerti dan perangai Rasulullah yang baik dan menjunjung tinggi kejujuran serta amal shalih. Sejarah mencatat bahwa as-sabiquna al-awalun (orang–orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam) dari golongan laki-laki adalah Abu Bakar.
Mengenai kisah Islamnya Abu Bakar, diceritakan bahwa ketika beliau sedang berdagang ke Syam, beliau bermimpi dan menceritakan mimpinya kepada seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira, pendeta itu pun bertanya, “Dari mana asalmu?”, Beliau menjawab, “Dari Mekah,” Pendeta itu bertanya lagi, “Dari suku apa?” Beliau menjawab, “Dari suku Quraisy”. Dia bertanya kembali, “Apa profesimu?”, beliau menjawab, “Aku seorang saudagar.” Ia berkata,“Allah telah memberimu mimpi yang benar, sesungguhnya akan diutus seorang Nabi dari kaummu, engkau akan menjadi tangan kanannya, dan menjadi khalifahnya setelah beliau wafat.” Abu Bakar pun merasa senang dengan kabar gembira tersebut.

Abu Bakar merupakan seorang dai yang giat dalam berdakwah, mengibarkan bendera Allah di lingkungan Quraisy, sehingga banyak pembesar Quraisy yang memeluk agama Islam, diantaranya; Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqosh, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Di antara strategi dakwah beliau adalah membeli budak yang sedang disiksa oleh majikannya, kemudian beliau merdekakan budak tersebut, di antaranya adalah Amir bin Fahirah dan Bilal bin Rabbah.
Dalam kehidupan sehari-hari, beliau adalah orang yang sangat sederhana. Walaupun demikian, beliau tetap menginfakkan sebagian atau bahkan seluruh hartanya fi sabilillah. Diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi dan Sunan Abu Dawud, dari Umar bin Khattab berkata, “Rasulullah memerintahkan kami (para sahabatnya) untuk bersedekah, maka aku sesuaikan dengan hartaku, Nabi berkata, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu? Aku menjawab:”Sama persis seperti yang aku sedekahkan”, kemudian datanglah Abu Bakar dengan seluruh harta yang dia miliki, Nabi berkata, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Dia menjawab, “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Umar berkata “Aku tidak akan pernah sanggup mengalahkan Abu Bakar dalam hal kebaikan selamanya.”
Beliau pulalah satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah hijrah ke Madinah, dari sebelum keberangkatan hingga sampai di Madinah. Beliau juga merupakan sahabat yang intelektualitasnya paling tinggi di antara sahabat lain, orang yang paling dicintai oleh Rasulullah, Sebagaimana dalam sabda beliau, “….Seandainya aku diperbolehkan menjadikan salah seorang umatku sebagai khalil (kekasih), niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku.”

Pada saat Rasulullah wafat, Abu Bakar adalah sahabat yang paling sabar mendengar berita tersebut. Dikisahkan ketika Umar menolak berita tentang kematian Nabi Muhammad, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari tempat tinggalnya di kampung Sanah, kemudian turun dan masuk ke dalam masjid, ia tidak berbicara kepada yang hadir, hingga masuk ke bilik ‘Aisyah dan menuju ke tempat Rasulullah yang sedang ditutupi kain lebar. Abu Bakar membuka wajahnya, kemudian menundukan kepala kepadanya, lalu menciumnya dan menangis. Selanjutnya ia berkata, “Ayah dan ibuku, sebagai tebusan bagimu, Allah tidak akan menyatukan padamu dua kematian, adapun kematian yang telah ditetapkan Allah atasmu telah engkau alami.”

Kemudian Abu Bakar keluar, sedangkan Umar sedang berbicara dengan orang-orang yang hadir di masjid, Abu Bakar berkata, “Duduklah wahai Umar!” Umar tidak mau duduk. Kemudian Abu Bakar membaca kalimat syahadat sehingga orang-orang mengerumuninya dan meninggalkan Umar, Abu Bakar berkata, “Amma ba’du, barangsiapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka sesungguhnya beliau telah mati! Dan barangsiapa menyembah Allah sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan mati, Allah berfirman, artinya, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang(murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 144)
Umar berkata, “Demi Allah! Tidaklah aku mendengar Abu Bakar membacanya, kecuali aku tercengang hingga kedua kakiku tak mampu lagi menyanggaku, kemudian aku terjatuh ke tanah saat dia membacanya, pada saat itulah baru aku menyadari bahwa Rasulullah telah wafat.”
Sepeninggal Rasulullah, diangkatlah Abu Bakar menjadi khalifah, pengganti Rasulullah memimpin umat Islam, pada masa singkat kepemimpinan beliau, umat Islam berkembang pesat, beliau juga memerangi orang-orang murtad yang tidak mau membayar zakat. Pada masa beliau pula al-Qur’an mulai dibukukan, karena banyak sekali para penghapal al-Quran yang gugur di medan jihad demi membela panji Allah melawan si nabi palsu Musailamah al-Kadzab.

Sungguh besar jasa beliau bagi umat ini, jika kita goreskan dengan tinta satu persatu tak akan cukup untuk mengenang perjuangan beliau dalam membela agama ini hingga akhir hayatnya. Tibalah saat bagi beliau menghadap Sang Khalik, ketika sakit mendera tubuh beliau selama lima belas hari, wafatlah sahabat mulia ini, pada hari Senin malam Selasa, pada tanggal 22 Jumadil Akhir tahun 13 H, beliau wafat di usia 63 tahun, kemudian beliau dikebumikan di kamar putrinya ‘Aisyah, tepat di samping kekasihnya baginda Rasulullah. Umar berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar yang telah mengorbankan jiwa raganya dan meringankan tugas khalifah setelahnya.” (Rifqi Solehan)

[Sumber:
“Abu Bakar ash-Shiddiq,” Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim dan beberapa sumber lainnya],alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar